Berburu Kuliner Khas Sasak di Lombok, Lebih Mudah dan Seru dengan Sewa Mobil Lombok Sendiri
Ada satu hal yang hampir selalu aku lakukan di hari pertama
tiba di kota atau pulau baru: tidak langsung ke destinasi wisatanya, tapi cari
makan dulu. Bukan di restoran yang ada di aplikasi food aggregator dengan foto
yang sudah di-filter, tapi di tempat yang kelihatannya sudah ada lama, ramainya
orang lokal, dan menunya ditulis tangan atau dicetak dengan font yang jelas
tidak pernah didesain oleh desainer grafis.
Di Lombok, kebiasaan itu mengantarku ke pengalaman yang jauh
melampaui ekspektasi.
Pulau ini punya tradisi kuliner yang kaya dan tersebar bukan
terpusat di satu kawasan atau satu tipe restoran. Warung-warung terbaik ada di
berbagai penjuru pulau, dari pinggir jalan Mataram yang berdebu sampai sudut
pasar kecil di Lombok Timur yang jarang masuk ke konten wisata manapun. Dan
untuk bisa menjangkau semua itu dengan efisien, ada satu hal yang tidak bisa
ditawar: kamu butuh kendaraan sendiri.
Kuliner Sasak Bukan Sekadar Makanan
Sebelum mulai berbicara soal makanannya satu per satu, ada
konteks yang penting untuk dipahami.
Kuliner Sasak nama suku asli Lombok bukan sekadar soal rasa.
Di balik setiap hidangan ada cerita soal rempah yang tumbuh di tanah vulkanik
Rinjani, soal tradisi memasak yang diwariskan turun-temurun, dan soal cara
masyarakat Sasak merayakan kebersamaan lewat meja makan.
Lombok dikenal sebagai salah satu daerah penghasil cabai
terbaik di Indonesia. Bukan kebetulan kalau kuliner Sasak identik dengan rasa
pedas yang bukan asal pedas ada kompleksitas rasa di baliknya, kombinasi panas
dari cabai segar dengan gurih dari kelapa sangrai atau terasi udang yang
aromanya bisa tercium dari kejauhan.
Tapi yang membuat pengalaman makan di Lombok benar-benar
istimewa bukan hanya rasanya. Tapi bagaimana kamu menemukannya.
Warung yang Tidak Ada di Google Maps
Perjalanan kuliner Lombok pertamaku yang benar-benar
berkesan tidak dimulai dari rekomendasi artikel atau ulasan di aplikasi.
Dimulai dari momen tidak sengaja aku sedang berkendara dari Mataram ke arah
Kuta, dan di satu tikungan kecil di kawasan Lombok Tengah, aroma dari sebuah
warung kecil masuk begitu saja ke dalam kabin mobil.
Aku injak rem.
Warungnya kecil. Tiga meja plastik di dalam, dua di luar.
Papan namanya seperti sudah ada di sana sejak tahun 1990-an dan tidak pernah
diganti. Tapi di depan warung ada satu tanda yang lebih meyakinkan dari review
bintang lima manapun: tiga motor yang parkir di sana padahal warungnya buka
baru setengah jam.
Aku masuk dan memesan apa yang si ibu rekomendasikan.
Yang datang adalah piring nasi dengan ayam bakar yang
warnanya coklat kehitaman dari proses pemangangan panjang, sepotong tempe
goreng tipis yang renyahnya sempurna, dan sambal yang begitu sendok pertama
menyentuh lidah memberikan rasa panas yang datang berlapis-lapis dan tidak
cepat pergi.
Aku tidak bilang apa-apa ke si ibu. Tapi ekspresi yang aku
tidak bisa sembunyikan sudah cukup bikin dia senyum dari balik meja kasir.
Momen seperti itu hanya bisa terjadi karena aku punya
kendaraan sendiri dan bebas berhenti kapanpun mau.
Ayam Taliwang: Ikonnya Kuliner Lombok
Tidak ada perjalanan kuliner ke Lombok yang lengkap tanpa
Ayam Taliwang. Ini hidangan yang namanya sudah terkenal bahkan di luar Lombok,
tapi mencicipinya langsung di tempat asalnya adalah pengalaman yang berbeda.
Ayam Taliwang aslinya menggunakan ayam kampung muda yang
dibelah dan dibakar di atas arang dengan bumbu yang meresap sampai ke tulang
kombinasi cabai rawit, bawang putih, kencur, terasi, dan beberapa rempah lain
yang formulanya setiap warung klaim punya rahasianya sendiri.
Yang membuat pencarian Ayam Taliwang terbaik jadi
petualangan tersendiri adalah fakta bahwa kualitasnya sangat bervariasi. Ada
yang dijual di restoran besar dengan nama besar tapi rasanya sudah dimodifikasi
untuk selera yang lebih umum. Ada yang dijual di warung kecil tanpa nama tapi
bumbunya seperti resep yang tidak pernah berkompromi.
Versi terbaik yang pernah aku coba ada di warung yang
lokasinya agak masuk ke dalam jalan kecil di kawasan Cakranegara, Mataram.
Tidak mungkin ketemu tanpa kendaraan sendiri karena aksesnya tidak terlalu
jelas dari jalan utama dan tidak ada petunjuk arah yang memadai. Aku
menemukannya dari tips seorang warga yang aku tanya waktu isi bensin di SPBU
terdekat.
Ayam kampungnya kecil, dagingnya padat, dan bumbu yang sudah
meresap sejak sebelum dipanggang membuat setiap gigitan terasa lengkap tanpa
perlu tambahan bumbu. Sambal plecing yang hadir sebagai pendamping kangkung
rebus dengan sambal tomat mentah yang segar memotong rasa berat dari ayam
panggangnya dengan cara yang sangat tepat.
Plecing Kangkung: Yang Sering Diremehkan
Berbicara soal plecing kangkung, ini hidangan yang sering
dianggap sebagai pelengkap tapi sebenarnya layak berdiri sendiri sebagai
bintang utama.
Kangkung Lombok punya tekstur yang berbeda dari kangkung
yang biasa aku temukan di kota tempat tinggalku lebih renyah, lebih segar, dan
entah kenapa lebih hijau meski diperlakukan dengan cara yang sama. Beberapa
warga lokal bilang itu soal tanah dan airnya mineral dari lereng Rinjani yang
mengalir ke pertanian kangkung di dataran.
Bisa benar, bisa tidak. Yang jelas bedanya terasa.
Sambal plecing Lombok dibuat dari tomat segar, cabai rawit,
terasi, dan sedikit jeruk limau yang diperas di atas tidak dimasak, hanya
dicampur dan diulek kasar sehingga semua elemen masih terasa terpisah tapi
bekerja sama. Ketika dituang di atas kangkung rebus yang masih hangat dan
ditaburi parutan kelapa sangrai di atasnya, hasilnya adalah kombinasi yang
segar, pedas, gurih, dan ada sedikit rasa asam yang bikin kamu tidak bisa
berhenti sendok demi sendok.
Untuk mencari plecing kangkung yang autentik, warung-warung
di pasar tradisional hampir selalu lebih baik dari yang ada di area wisata.
Pasar Mandalika di Mataram, pasar-pasar kecil di Lombok Tengah, atau
warung-warung makan yang ada di sekitar terminal angkutan semua ini butuh
kendaraan sendiri untuk dijangkau dengan efisien.
Nasi Balap Puyung: Sarapan yang Bisa Bikin Berkeringat
Kalau kamu berencana kuliner Lombok dengan serius, Nasi
Balap Puyung wajib masuk ke dalam daftar sebaiknya sebagai menu sarapan atau
makan siang, bukan malam hari ketika perutmu butuh yang lebih ringan.
Nama Puyung diambil dari nama desa asalnya di Lombok Tengah,
tapi sekarang Nasi Balap Puyung sudah tersebar ke hampir seluruh Lombok dan
bahkan ke kota-kota besar di Indonesia. Tapi seperti banyak hidangan daerah
yang merantau, versi aslinya di tempat asal tetap punya kelas tersendiri.
Hidangannya simpel secara visual: nasi putih dengan ayam
suwir pedas, kacang tanah goreng, dan sambal yang levelnya tidak main-main.
Tambahannya biasanya ada tempe dan tahu goreng, serta kerupuk. Tapi
kesederhanaannya itu menipu rasa dari perpaduan semua elemen itu kompleks dan
sangat berkarakter.
Aku pertama kali makan Nasi Balap Puyung yang benar-benar
autentik di sebuah warung kecil di kawasan Jonggat, Lombok Tengah satu jam dari
Mataram ke arah selatan, persis di jalur menuju Kuta Lombok. Waktu itu baru
pukul tujuh pagi dan warungnya sudah hampir penuh dengan warga lokal yang
mampir sebelum memulai aktivitas.
Aku ambil satu porsi. Dan langsung menyesal tidak memesan
dua.
Sate Rembiga: Yang Tidak Banyak Orang Tahu
Kalau Ayam Taliwang adalah wajah kuliner Lombok yang sudah
terkenal, Sate Rembiga adalah sisi yang lebih tersembunyi yang kalau sudah
pernah mencicipinya, kamu tidak akan percaya kenapa tidak lebih banyak orang
membicarakannya.
Rembiga adalah nama kawasan di pinggiran kota Mataram yang
konon adalah tempat lahirnya sate ini. Dagingnya dari sapi yang dimarinasi
dengan bumbu yang kaya kecap manis, cabai, rempah-rempah lalu dibakar di atas
arang sampai bagian luarnya sedikit karamel dari gula dalam bumbu rendamannya.
Hasilnya adalah sate yang rasanya jauh berbeda dari sate
Madura atau sate Padang yang lebih umum dikenal. Lebih manis di awal, lebih
kompleks di tengah, dan ada rasa pedas yang datang perlahan di belakang yang
membuatmu terus mengambil tusuk berikutnya sebelum yang di tangan habis.
Untuk mencari Sate Rembiga yang baik, kawasan di sekitar
jalan Rembiga di Mataram adalah tempat yang paling logis. Tapi ada beberapa
warung di luar kawasan itu yang kualitasnya tidak kalah dan untuk menemukan
yang terbaik, kamu perlu kendaraan yang bisa dibawa memutar, mampir, dan
mencoba tanpa terikat rute yang sudah ditentukan.
Beberuk Terong: Lalapan yang Bukan Lalapan Biasa
Ini yang paling sering mengejutkan wisatawan yang baru
pertama kali ke Lombok.
Beberuk adalah hidangan sayuran khas Sasak irisan terong
mentah, kacang panjang, dan kadang ditambah tomat yang dicampur dengan kelapa
parut sangrai dan sambal pedas yang diulek halus. Dimakan mentah tanpa dimasak
sama sekali.
Kedengarannya sederhana. Dan memang penampilannya sederhana.
Tapi rasa dari perpaduan tekstur terong mentah yang sedikit pahit, kelapa
sangrai yang gurih, dan sambal yang pedasnya tidak bercanda itu jenis kombinasi
yang susah kamu temukan di masakan daerah lain.
Beberuk biasanya hadir sebagai pendamping nasi dan lauk
utama, bukan sebagai hidangan mandiri. Tapi di beberapa warung yang
spesialisasinya memang masakan Sasak autentik, beberuk disajikan dengan porsi
yang cukup untuk dinikmati sebagai sajian utama.
Rute Kuliner yang Aku Rekomendasikan
Dari beberapa kali keliling Lombok dengan fokus kuliner, ini
rute yang menurut aku paling efisien untuk menjangkau pengalaman makan terbaik
di pulau ini:
Pagi hari di Mataram: Mulai dengan Nasi Balap Puyung
di warung lokal sebelum kawasan ramai. Mataram punya beberapa titik yang warung
puyungnya sudah buka sejak pukul enam pagi dan sudah ramai warga lokal itu
tanda yang tidak pernah salah.
Menjelang siang di Cakranegara atau Bertais: Dua
kawasan ini adalah pusat kuliner Lombok yang masih autentik dan belum terlalu
tersentuh wisata massal. Pasar Bertais di hari tertentu punya deretan penjual
makanan yang pilihan dan kualitasnya luar biasa untuk ukuran harga yang sangat
terjangkau.
Makan siang di perjalanan menuju selatan: Rute dari
Mataram ke Kuta Lombok melewati beberapa kawasan yang punya warung-warung
pinggir jalan dengan masakan Sasak yang tidak kalah dari yang ada di kota. Ini
yang aku sebut di awal tulisan warung yang ditemukan dari aroma yang masuk ke
kabin mobil.
Sore di kawasan Senggigi atau Ampenan: Ampenan
kawasan pelabuhan tua Mataram yang sekarang sudah tidak berfungsi sebagai
pelabuhan punya deretan jajanan sore yang sangat sayang dilewatkan. Beberapa
penjual di sana sudah ada sejak puluhan tahun dan resepnya tidak banyak
berubah.
Malam di area yang kamu inap: Hampir semua kawasan
utama Lombok punya pilihan makan malam yang baik. Tapi untuk pengalaman yang
lebih berkesan, cari warung yang buka sampai malam dengan menu masakan Sasak
bukan restoran dengan menu internasional yang ada di mana-mana.
Kenapa Kendaraan Sendiri Mengubah Segalanya
Aku sudah menyebut ini beberapa kali di tulisan ini, tapi
aku mau dedikasikan satu bagian khusus untuk menjelaskannya lebih jelas.
Kuliner terbaik di Lombok tidak ada di food court mal atau
di restoran yang mudah ditemukan di aplikasi. Kuliner terbaik ada di
warung-warung yang lokasinya tidak selalu strategis, tidak punya akses
transportasi umum yang mudah, dan seringkali ditemukan secara tidak sengaja
dari arah yang tidak kamu rencanakan.
Untuk bisa menemukan dan menjangkau semua itu, kamu butuh
dua hal: waktu yang fleksibel dan kendaraan yang bisa kamu hentikan kapanpun
mau.
Travel sharing tidak memberikan itu. Ojek online tidak
menjangkau semua titik, terutama di kawasan yang lebih terpencil. Dan tur paket
yang jadwalnya sudah terprogram sudah pasti tidak punya ruang untuk berhenti
mendadak di warung pinggir jalan karena aromanya terlalu menggoda untuk
diabaikan.
Layanan sewa
mobil Lombok yang aku gunakan untuk semua perjalanan kuliner ini adalah
Lepas Kunci Lombok. Dengan kendaraan yang sudah ada dari hari pertama, seluruh
pendekatan perjalananku berubah dari sekadar mengunjungi destinasi yang sudah
ada di daftar, menjadi membiarkan diri tersesat dengan cara yang menyenangkan
dan menemukan hal-hal yang tidak ada di itinerary manapun.
Tips Praktis untuk Perjalanan Kuliner di Lombok
Dari semua pengalaman itu, ini beberapa hal yang paling
penting untuk kamu ingat:
Percayai warung yang ramai orang lokal di jam makan.
Ini filter yang tidak pernah gagal. Orang lokal tahu mana yang enak dan tidak
mau buang uang untuk yang biasa-biasa saja.
Datangi pasar tradisional di pagi hari. Banyak
kuliner Lombok terbaik ada di pasar, bukan di restoran. Dan pasar tradisional
paling hidup di pagi hari setelah itu banyak lapak yang sudah kehabisan atau
mulai tutup.
Jangan takut tanya ke warga. Pertanyaan sesederhana
"Di sini ada warung ayam taliwang yang enak?" kepada warga lokal
hampir selalu menghasilkan jawaban yang lebih akurat dari review online
manapun.
Siapkan perut yang lapang dan jadwal yang tidak ketat.
Kuliner terbaik butuh waktu dan kesediaan untuk berjalan sedikit lebih jauh
dari rencana awal. Jangan padatkan itinerary sampai tidak ada ruang untuk
mampir di warung yang menarik perhatianmu.
Bawa uang tunai yang cukup. Hampir semua warung dan
pasar tradisional di Lombok masih berbasis tunai. Jangan bergantung pada
pembayaran digital untuk keperluan makan di warung lokal.
Lombok adalah Pulau yang Bisa Kamu Cicip
Setelah beberapa kali ke Lombok dengan fokus yang
berbeda-beda, aku sampai pada satu kesimpulan yang mungkin terdengar sederhana
tapi semakin terasa benar setiap kali aku kembali: cara terbaik untuk mengenal
sebuah tempat adalah lewat makanannya.
Dan cara terbaik untuk menjelajahi makanan Lombok adalah
dengan kendaraan yang memberimu kebebasan untuk berhenti, mampir, mencoba, dan
berbelok ke jalan yang tidak ada di itinerary karena aroma dari balik
tikungannya terlalu kuat untuk diabaikan.
Untuk perjalanan kuliner yang serius di Lombok, cek
ketersediaan layanan rental mobil
Lombok sebelum kamu finalisasi tanggal keberangkatan. Pastikan kendaraan
sudah siap dari hari pertama kamu mendarat karena kuliner terbaik Lombok tidak
menunggu sampai kamu selesai mengurus transportasi dadakan.
Perutmu sudah tahu kemana harus pergi. Pastikan kendaraanmu
siap mengikuti.
